Psikolog Menilai, Kasus Bunuh Diri Meningkat Di Tulungagung Akibat Tak Mampu Pahami Kondisi Mental

ilustrasi

Tulungagung, JTVMataraman.com : Meningkatnya kasus bunuh diri di Tulungagung, dinilai akibat banyak orang yang tidak mampu memahami kondisi mentalnya. Salah satu upaya untuk mencegah terjadinya bunuh diri adalah peran keluarga.

Psikolog, Ifada Nur Rohmaniah,M.Psi mengatakan, kasus bunuh diri adalah masalah yang sangat sensitif dan kompleks dengan banyak penyebab, dan tidak pernah bisa sepenuhnya mengetahui alasan di baliknya. Seseorang yang mengalami depresi berat memang berisiko tinggi untuk bunuh diri.

“Gambaran kondisi umum ditandai dengan rasa putus asa, suasana hati yang buruk, tidak semangat menjalani aktivitas sehari-hari, atau kehilangan minat dan motivasi hidup,” ujarnya.
 
Ifada menjelaskan, seseorang yang memutuskan untuk bunuh diri sebenarnya ketidak mampuan dalam memahami kobdisi mentalnya. Ketika seseorang mengalami depresi disebabkan oleh suatu perubahan dalam otak. Depresi menghasilkan penyusutan hippocampus hingga sepuluh persen yang meninggalkan jejak dalam otak.

“Untuk itu ketika mengalami depresi ringan perlu dilakukan pertolongan secara professional jangan sampai nunggu kondisi menjadi berat hingga akut,” jelasnya.
 
Dia menambahkan, kasus bunuh diri bukan soal berani, melainkan kasus bunuh diri itu merupakan soal kondisi otak. Pasalnya, depresi kronis merupakan penyakit kronis yang berkaitan dengan stres. Penderita depresi kronis diketahui sering memiliki ukuran hippocampus yang lebih kecil daripada orang sehat.

“Hippocampus adalah daerah otak yang memiliki peran penting, Ketika seseorang mengalami depresi kronis yang berulang memang menyusutkan hippocampus sehingga menyebabkan hilangnya fungsi emosi dan perilaku,” tambahnya.

Disinggung mengenai laki-laki yang menjadi dominasi kasus bunuh diri di Tulungagung, Ifada mengungkapkan, sebenarnya dalam kasus bunuh diri, laki-laki yang mengalami depresi lebih jarang mencari bantuan untuk kesehatan mental. Kondisi ini bukan berarti laki-laki tidak punya masalah yang sama dengan perempuan.

“Biasanya laki-laki lebih jarang mengetahui jika mereka mengalami stres atau kondisi kesehatan mental apapun yang membuat mereka lebih berisiko untuk bunuh diri,” ungkapnya.
 
Perlu diketahui bahwa kasus bunuh diri sebenarnya bisa dicegah dengan beberapa hal. Seperti meminta bantuan professional ke Psikolog serta Psikiater. Ketika keduanya berperan, akan lebih komprehensif penanganan kondisi mental seseorang, penanganan kondisi demotivasi, mengalami berbagai tekanan dan tumpukan emosi untuk ditangani dalam treatmen psikologis oleh Psikolog dan farmakologi oleh Psikiater.
 
“Selain berkonsultasi kepada seorang yang profesional, keluarga juga perlu peka dan paham. Memiliki rasa empati Ketika ada kondisi tertentu yang dialami anggota keluarga,” tegasnya.

Ifada mengatakan, kesehatan mental merupakan Invisible desease (penyakit yang tidak terlihat). Orang yang mengalami depresi bukan berarti lemah, dan bukan karena tidak bisa bersyukur, namun ini merupakan suatu kondisi neurologis dimana ada gangguan fungsi syaraf di otak berkaitan dengan neurotransmiter yang juga mempengaruhi hormonal. Sehingga kebutuhan ingin dipahami serta diperhatikan memang tinggi.

“Yang membedakan seseorang dengan yang lain berbeda dalam mengalami peristiwa yang membuat sedih, marah, bahkan apatis karena respon internal individu memang berbeda walau satu keluarga sekalipun,” pungkasnya. (ham)