Petani Tulungagung Kesulitan Pupuk, Droping Ribuan Pupuk Urea Dan Za

Tulungagung, Jtvmataraman.com, Ketersediaan pupuk di Tulungagung masih menjadi permasalahan yang klasik. Setidaknya realisasi dari usulan pupuk petani hanya sekitar 60 persen.

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Anggia Erma Rini mengatakan, saat ini kondisi petani sedang kesulitan mendapatkan pupuk. Bahkan pembahasan dalam rapat Panja menjadi pembahasan yang sangat rumit.

“Memang produksi pupuk kita tidak mampu mencukupi kebutuhan petani. Dengan adanya subsidi pupuk memang dapat meringankan petani, akan tetapi harus ada perubahan managemen agar pentani benar-benar meraskan dampaknya,” tuturnya.

Anggia menjelaskan, sektor pertanian tidak mungkin lepas dari kebutuhan pupuk. Bahkan saat ini tidak hanya pupuk subsidi yang sulit didapatkan oleh petani, melainkan, pupuk non subsidi juga sulit ditemukan oleh petani.

“Ini merupakan temuan kami di lapangan,” jelasnya.

Wakil Ketua DPRD Tulungagung, Adib Makarim menambahkan, di Tulungagung memang banyak petani yang mengeluhkan sulitnya mendapatkan pupuk. Bahkan usulan pupuk dari petani kepada pemerintah pusat tidak bisa 100 persen terpenuhi.

“Selama ini usulan pupuk dari petani hanya terealisasi sekitar 60 persen saja,” tambahnya.

Adib mengungkapkan, maka dari itu berbagai upaya harus dilakukan seperti melakukan koordinasi dengan Dispertan Tulungagung dan Bupati Tulungagung. Selain itu juga menjalin kerja sama dengan pihak terkait seperti Bulog.

“Hari ini, (1/12) Bulog memberikan bantuan pupuk kepada petani Tulungagung, ditengah sulitnya mendapatkan pupuk. Setidaknya dengan adanya bantuan pupuk, ada 20 hektar lahan yang mendapatkan pasokan pupuk urea dan za,” ungkapnya.

Sementara itu, Direktur Supply Chain dan Pelayanan Publik Perum Bulog, Mokhamad Suyanto mengatakan, kali ini pihaknya memberikan bantuan pupuk urea sebanyak 1.400 kg dan pupuk za 4.200 kg kepad petani di Tulungagung, sebagai tanggung jawab sosial dan lingkungan peduli petani.

“Tidak hanya memberikan bantuan pupuk saja, tapi kami juga akan mengawal hingga penyerapan hasilnya,” ujarnya.

Pasalnya, selama ini kendala yang dialami petani adalah tidak adanya pasar, maka pihaknya akan menyerap secara optimal dalam pengadaan cadangan beras.

“Biasanya kendala yang dihadapi ketika melakukan panen raya di musim hujan. Karena agar beras bisa masuk gudang harus memenuni persyaratan. Salah satunya adalah kadar air dalam beras harus 14 persen. Dan hal ini sering tidak bisa dipenuhi oleh petani,” paparnya.

Perlu diketahui bahwa stok pangan yang harus dipenuhi adalah 1,5 Juta Ton. Sedangkan realisasi saat ini mencapai 1,25 Juta Ton.

“Maka kami akan fokus pengadaan beras pada panen raya. Dimana biasanya ketika panen raya harga beras akan jatuh. Maka kami akan optimalkan penyerapan agar harga beras bisa naik,” pungkasnya. (ham)