Petani Boyolangu Keluahkan Harga Tembakau Penurunan Harga Hingga 30 Persen

Tulungagung – Sejumlah petani tembakau di Desa Waung Kecamatan Boyolangu, saat ini mengeluhkan turunnya harga tembakau dan lesunya permintaan di pasar. Kendati hasil panen ditahun ini sangatlah bagus.

Di musim kemarau seperti saat, membuat kwalitas tanaman yang merupakan bahan dasar rokok tersebut sangat bagus. Namun, hal itu tidaklah membuat sejumlah petani maupun pengrajin tembakau tersenyum lebar. Pasalnya, harga tembakau ditahun ini mengalami penurunan serta permintaan pasar yang lesu. Hal ini yang membuat mereka harus pintar memutar otak atau mengatur strategi guna menghindari kerugian.

“Kalau kwalitas hasil panen tembakau tahun ini masuk masa keemasan atau bagus. Namun, ya itu tadi harga masih rendah dibandingkan dengan tahun lalu,” ungkap Sutikno salah satu petani tembakau di Desa Waung, Kecamatan Boyolangu.

Sutikno yang juga sebagai pengrajin tembakau mamaparkan ada dua macam tembakau hasil olahannya, yaitu tembakau warna kuning dan warna hitam. Untuk saat ini harga tembakau warna kuning yang menggunakan gula masih berkutat dikisaran Rp 30-40 ribu per kilogramnya, dan untuk non gula harga dikisaran Rp 50-60 ribu per kilogramnya. Sedangkan tembakau warna hitam, kini harga mencapai Rp 50-60 ribu per kilogramnya.

Harga tembakau ditahun ini mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun lalu. Dimana ditahun lalu (2017), untuk tembakau warna kuning pakai gula harganya sekitar Rp 50-60 ribu/kilogram, dan yang non gula Rp 60-70 ribu/kilogramnya. Untuk tembakau warna hitam dulu sekitar Rp 60-70 ribu/kilogram.

“Untuk harga saat ini, masih dibilang minim, jika dibandingkan dengan biaya produksi dari mentah hingga jadi selalu naik setiap tahunnya. Ditambah lagi dengan upah buruh yang sebelum Rp 50 ribu per hari kini menjadi Rp 60 ribu per hari,” jelasnya.

Hal senada diungkapkan oleh Juwari petani lainnya, ada beberapa faktor yang mempengaruhi turunnya harga tembakau saat ini. Yang pertama yakni masih banyaknya stok tembakau ditahun lalu di gudang para pengepul. Ditambah lesunya permintaan pasar. “Petani bisa dibilang untung, jika harga tembakau minimal dikisaran Rp 45-50 ribu per kilogramnya, itu minim,” ujarnya.

Untuk meminimalisir kerugian, Juwari maupun Sutikno, mereka melakukan strategi dengan cara menimbun tembakau yang siap dipasarkan untuk dijual lima hingga enam bulan kedepan, dengan melihat kondisi harga dipasaran. “Kita timbun terlebih dahulu, nanti kita lihat harga di lima bulan kedepan, daripada dijual saat ini nantinya rugi,” jelasnya.

Sutikno menambahkan, untuk saat ini dirinya tetap melayani permintaan pabrik rokok. Yakni tembakau dengan rajangan kasar atau besar. “Untuk pengecer kita layani namun tidak banyak, sedangkan untuk pabrikan kita tetap layani. Untuk memutar biaya produksi,” pungkasnya. (Danu)

Tinggalkan Balasan