Jelang Ramadan Pertamina Tambah Pasokan Elpiji 3 Kg di Tulungagung

Tulungagung – Menggelar sidak ke sejumlah agen dan pengecer gas elpiji ukuran 3 kg kilogram di wilayah Kabupaten Tulungagung, jumat (11/05/2018).  Dalam sidak tersebut pihak PT. Pertamina memastikan stok kebutuhan gas elpiji aman selama bulan ramadhan dan tidak mengalami kekurangan, bahkan menjelang bulan Ramadan dilakukan penambahan pasokan mencapai 126 persen dari alokasi sebelumnya.

Officer Komunikasi dan CSR Pertamina Jatim Bali Nusra Edi Mangun mengatakan penambahan pasokan di Tulungagung tersebut dilakukan sejak awal Mei lalu. Dari sebelumnya 35.840 tabung/hari ditambah menjadi 39.200 tabung/hari atau meningkat 9 persen.

“Tanggal 10 Mei, penyaluran ditambah sebanyak 44.240 tabung atau 125 persen lebih besar dari penyaluran harian. Hal ini dilakukan Pertamina untuk memenuhi kebutuhan masyarakat menjelang bulan Ramadan, karena biasanya ada peningkatan konsumsi di masyarakat,” ujar Edi saat melajukan peninjauan lapangan di agen dan pangkalan Elpiji di Tulungagung.

Penambahan pasokan Elpiji melon tidak hanya dilakukan di Tulungagung, namun di Kabupaten dan Kota Blitar juga ditingkatkan alokasinya dari semula 34.000 tabung/hari ditambah 20.700 tabung atau mencapai 50 persen.

“Kami tadi ke agen Manggala Jaya dan saya tanya di sana melakukan proses distribusi seperti biasa, bahkan ketika ada penambahan kemarin mereka juga ikut menambah pasokan ke pangkalan,” ujar Edi.

Terkait kelangkaan Elpiji subsidi di tingkat pengecer, Edi mengaku tidak mengetahui secara pasti penyebabnya, karena wewenang pengawasan Pertamina hanya sampai tingkat pangkalan. Namun pihaknya menduga ada ulah spekulan yang sengaja memanfaatkan momen jelang Ramadan.

“Kalau di bawahnya diawasi oleh tim terpadu seperti polisi dan sebagainya, nah makanya kita semua perlu berkomunikasi dengan mereka agar tidak terjadi spekulan-spekulan ini,” tambahnya.

Kondisi tersebut terkadang berakibat pada meningkatnya harga gas Elpiji melon di tingkat eceran hingga di atas harga eceran tertinggi (HET).

Sementara itu di sejumlah desa keberadaan gas bersubsidi tersebut masih sulit didapatkan. Salah seorang warga Cahyono mengaku, kelangkaan gas ini terjadi sejak sepekan terakhir.

“Kalau di eceran itu harganya sekitar Rp17 ribu, tapi barangnya tidak ada, jadi harus muter-muter cari di tempat lain,” pungkasnya.