Halaman Sekolah Jadi Wisata Desa, SDN 2 Plandaan Dibayangi Marger

Tulungagung, Jtvmataraman.com, Nasib puluhan siswa SDN 2 Plandaan, Kecamatan Kedungwaru masih belum ada kejelasan. Pasalnya, SD yang berdiri di tanah kas milik desa tersebut, akan dialih fungsikan menjadi wisata desa oleh pemerintah desa (Pemdes) Plandaan.

Kepala SDN 2 Plandaan, Rusmi mengatakan, mulanya pada awal 2021, pihaknya mendapatkan proposal pengajuan marger dari Pemdes Plandaan. Dalam proposal tersebut tujuan intinya adalah menginginkan SDN 2 Plandaan dimarger dengan SDN 1 Plandaan. Ketika mendapatkan proposal permohonan marger, pihaknya langsung ke UPT dan Dispendikpora Tulungagung untuk melakukan koordinasi.

“Sebelum kami menerima proposal marger dari pemdes, kami tidak pernah diajak untuk rapat membahas marger sekolah dan alih fungsi lahan. Selain itu hingga kini juga tidak ada keputusan apakah SDN 2 Plandaan akan dimarger atau tidak” tuturnya.

Setelah itu, pada November 2021 ini pihaknya mendapatkan surat pemberitahuan dari Pemdes Plandaan, bahwa akan dilakukan pengerjaan proyek pembangunan wisata desa berupa kolam renang. Dua hari setelahnya, pekerja proyek dan alat berat datang ke sekolah untuk membangun kolam renang tersebut hingga sekarang. Setikdanya sudah dua minggu, proses pembangunan dilakukan.

“Pengerjaan ini sudah dua minggu. Bahkan mendatangkan bego ketika pembelajaran,” ujarnya.

Perempuan berkrudung itu menjelaskan, sejak adanya pembangunan kolam renang tersebut, aktivitas pembelajaran siswa sangat terganggu. Akhirnya membuat proses pembelajaran siswa tidak maksimal.

“Kemarin ketika ANBK kami harus pindah tempat karena banyak alat berat yang membuat situasi tidak kondusif. Selain itu seperti pelajaran olahraga kami juga kebingungan karena tidak ada lahan bagi siswa melakukan praktek olah raga,” jelasnya.

Dengan adanya pembangunan kolam renang di halaman sekolah, tentu banyak materiil dan kawasan yang berbahaya bagi siswa. Apalagi ketika bersekolah dan tidak ada pengaman.

“Saya pikir untuk keamanan siswa yang bersekolah sudah dipikirkan oleh Pemdes Plandaan. Jadi saya tidak mau berkomentar lebih. Karena saya yakin mereka punya kebijakan yang baik, disisi lain kami juga tidak memiliki kewenangan,” terangnya.

Rusmi menambahkan, sekolah ini didirikan sejak 1986 silam. Saat ini total siswa ada 26 orang, mulai dari kelas I hingga VI. Meski banyak siswa yang dulu tidak menempuh jenjang pendidikan TK, tapi siswa disini termasuk aktif.

“Sebelum korona, berbagai kegiatan ektra dilakukan. Mulai dari reog kendang, pramuka bahkan juga turut serta meramaikan peringatan agustusan di Desa Plandaan. Tapi karena pandemi Covid-19, membuat aktivitas terbatasi,” tambahnya.

Dia juga mengungkapkan bahwa pada tahun ini SDN 2 Plandaan juga mendapatkan DAK sebanyak Rp 280 Juta untul rehab gedung sekolah. Selain itu juga diberi gamelan serta fasilitas buku untuk perpustakaan, yang kini sudah mencapai 5.000 koleksi buku.

“Bahkan sekolah kami juga diikutkan literasi di Bali. Proyeksi kedepan sekolah ini masih bisa bersaing dengan sekolah lainya,” paparnya.

Jika halaman sekolah yang statusnya tanah milik desa ini digunakan untuk wisata, pihaknya berharap akan berdampak pada meningkatnya jumlah siswa.

“Kami hanya bisa berangan-angan dan berharap saja,” ucapnya.

Ditempat terpisah, Kades Plandaan, Fauzi Surahmat mengatakan, adanya tuduhan yang beredar bahwa pihak pemdes melakukan penyerobotan lahan sekolah dan sebagainya itu tidak benar. Pembangunan wisata kolam renang di halaman SDN 2 Plandaan itu merupakan hasil musyawarah desa (Musdes) pada akhir 2020 lalu. Saat itu juga melibatkan RT, RW, tokoh masyarakat, tokoh agama dan sebagainya. Kesepakatan musdes adalah tanah kas desa yang berada di halaman SDN 2 Plandaan akan dijadikan sebagai wisata desa.

“Ketika itu kami juga sudah melakukan koordinasi dengan pihak sekolah,” tuturnya.

Fauzi menjelaskan, dengan adanya pembangunan wisata tersebut, pihaknya melalui musdes mengusulkan SDN 2 Plandaan dimarger dengan SDN 1 Plandaan. Hal ini didasarkan pada minimnya jumlah siswa di SDN 2 Plandaan. Selain itu juga didasarkan pada angka kelahiran anak tiap tahun yang hanya 21 jiwa di Desa Plandaan.

“Karena muridnya sedikit, lebih baik digabung biar siswa juga semangat belajar. Kami juga sudah mengajukan marger sejak Januari 2021 lalu” jelasnya.

Disinggung, kenapa pembangunan tidak menunggu keputusan marger, mengingat aktivitas pembelajara juga masih berjalan, pihaknya mengungkapkan, jika menunggu keputusan marger dirasa terlalu lama, mengingat pihaknya sudah mengajukan sejak awal tahun lalu dan sampai sekarang belum ada kejelasan. Sementara itu, BK yang didapatkan dari provinsi harus selesai terserap pada akhir tahun ini, agar BK tidak ditarik kembali.

“BK keluar pada November dan harus segera terserap. Maka dari itu kami harus segera lakukan pembangunan,” tambahnya.

Pria berkacamata itu mengatakan, dalam hal pembangunan wisata desa pihaknya mendapatkan BK dari Provinsi sebanyak Rp 586 Juta dari total pengajuan Rp 1,2 Miliar.

“Kami tidak memakai investor, jadi kekurangan ini akan kami cari dari sumber lain,” ujarnya.

Pembangunan wisata yang berada di halaman SDN 2 Plandaan di atas tanah kas desa itu, akan dijadikan sebagai wisata mulitisektoral, mencangkup perekonomian, budaya, olahraga dan pendidikan.

Sementara itu, Camat Kedungwaru, Hari Prastijo mengungkapkan bahwa sudah memberikan saran kepada kades untuk membangun tembok terlebih dahulu sebelum membangun kolam renang. Hal ini bertujuan agar tidak mengganggu kegiatan pembelajaran siswa serta siswa bisa aman.

“Saya sudah menyarankan kades untuk bangun tembok dulu, tapi karena sudah berjalan ini saya minta kades untuk buat pembatas antara pengerjaan wisata dengan sekolah,” jelasnya.

Yoyok -sapaan akrabnya juga mengatakan bahwa dengan dibangunya wisata di Desa Plandaan akan memberikan dampak positif bagi masyarakat. Pertama dapat meningkatkan perekonomian warga serta menjadikan lembaga pendidikan yang lebih efektif. (ham)