Tony Wijaya, Pioner Pembudidaya Ikan Hias Koi Kelas Internasional Asal Blitar

Blitar – Ikan yang bersulam emas atau perak disebut oleh masyarakat luas dengan ikan koi ini merupakan ikan kelas internasional yang paling di gemari dan sangat sayang sekali jika untuk di konsumsi. Bagi pecinta ikan koi, jenis ikan yang indah dan menarik ini layak di lombakan atau mengikuti tes baik tingkat nasional maupun internasioanal.

Salah satunya Tony Wijaya pemilik Proklamator Koi Blitar dari dusun Bulu, Modangan, Nglegok, Blitar yang sering mengikuti kontes tingkat nasioanal maupun internasional. Dirinya bahkan peternak koi terbaik dari Blitar yang mampu go internasional dan sudah tergabung dalam anggota Asosiasi Pecinta Koi Indonesia (APKI) dan komunitas Blitar Koi Club ( BKC ) sebagai Skretaris.

Awalnya Tony hanyalah karyawan perusahaan di Surabaya, di tahun 2008 ia penasaran dan mencoba menganalisis potensi pembudidayaan ikan koi di daerahnya yakni kecamatan Nglegok yang memiliki kelebihan untuk pembudidayan khususnya ikan koi dan keuntungan besar. Dari situlah ia kerap bertanya ke pembudidaya-pembudidaya ikan koi untuk bagaimana caranya agar go internasional.

Dengan semangatnya yang tinggi dan ingin terus berinovasi, kini berbagai juara tingat kabupaten, nasional bahkan internasional pernah di raihnya. Salah satunya kontes koi juara 1 piala Bupati dan juara satu 1 juga piala Presiden. Saat ini di rumahnya setidaknya memiliki ribuan ikan koi jenis Kohaku, Taisho Sanke dan Showa sansoku yang terjual hingga ke daerah lain, luar pulau sampai ke manca negara.
Jika di bandingkan dengan kota lain, Ikan Hias koi di Blitar khususnya milik Tony memang memiliki keunggulan tersendiri yakni dari warnanya yang cerah, body yang mirip dengan koi impor dan cepat besar. Keunggulan inilah bisa di perhatikan dari cara pembudidayaannya yang super selektif.

Tony Wijaya menjelaskan awalnya mencari indukan yang berumur 2,5 tahun dengan size sekitar 60-65 cm yang siap untuk di pijahkan dengan pejantan size sekitar 50 cm minimal 2 tahun. Setelah di pijahkan kira-kira butuh 3 hari anakan koi menetas, dari Total telur yang 30% tidak bisa menetas karena keadaan alam, cuaca dan kondisi indukan. Untuk 70% yang bisa masuk kolam sawah hanya 60%, yang lainnya karena mati terlalu padat di tempat pemijahan, faktor alam dan sebagainya.

“Dari kolam sawah bisa di sortir umur 40 hari dengan size 7-10 cm, itu sortiran pertama. Kira-kira bisa di buang hampir 60% dan yang layak di pelihara hanya 40%. Setelah 2 bulan berikutnya, saat size 17-20 cm di sortir lagi separo, 20% yang dipelihara, yang lainnya di jual grade c. Untuk mencapai 30 cm butuh waktu 2 bulan, sehingga dari 20% bisa di ambil hanya 5% yang bisa dibesarkan 30-50 cm.” Ungkapnya.
Diketahui di Proklamator Koi Blitar yang di gagas oleh Tony Wijaya ini memiliki grade C hingga grade A.

Untuk grade pasar di sebut Grade C yang memiliki harga miring dengan penjualan sekitar 500 ekor. Berbeda lagi dengan Grade B memiliki harga jual kelas menengah dan untuk Grade A memiliki kelas istimewa sekitar 50 ekor serta yang paling fantastis 2 atau 3 ekor yang menjadi Show Quality, bagian inilah yang pantas untuk kontes. Semua hal itu tergantung kualitas dan motif dan inilah mengapa ikan koi memiliki harga jual yang sangat tinggi hingga milyaran rupiah.

“Harapan saya, para petani pembudidaya ikan koi khususnya di Blitar dan pada umumnya di Indonesia jangan bosan untuk berinovasi menemukan bladder-bladder atau darah garis keturunan ikan koi kualitas yang bersaing dengan koi impor. sehingga bisa mengeluarkan produk berkualitas dengan level internasional, bisa di akui bahwa pembudidayaan koi di Indonesia mampu bersaing dengan koi-koi impor.” Tutur Tony, kamis (1/11/2018). (Ervin)

Tinggalkan Balasan