Sunyinya Simpang Lima Gumul Di Malam Ramadhan

Kediri – Kerlipan lampu malam di Monumen Simpang Lima Gumul (SLG) di Kabupaten Kediri sepanjang petang hingga malam hari biasanya menjadi sebuah magnet yang luar biasa untuk spot foto bagi warga yang sedang melintas. Ribuan potret nitizen yang mendokumentasikan dirinya dengan bangunan mirip Arc de Triomphe di Paris, Prancis, itu tersebar di belantara maya. 

Berlokasi di Desa Tugurejo, Kecamatan Ngasem, SLG dibangun pada 2003 lalu diresmikan tahun 2008, kawasan Gumul lebih terasa sebagai shelther perjumpaan masyarakat, utamanya para muda. Banyak pedagang kuliner dan jasa mainan anak-anak yang berjejer sepanjang malam.

Namun, sejak Pemerintah mengumumkan situasi darurat akibat meluasnya Covid-19, SLG di malam Ramadhan tahun ini pun serasa sunyi. Perintah menjalani social /physical distancing, dipatuhi. Tak lagi ada warga yang hang out, setelah menjalani sholat taraweh. Kendaraan yang melintas di bundaran SLG tidak seramai hari-hari biasanya. 

Aparat Satpol PP juga terlihat bersiaga karena area parkir, pusat kuliner, taman hijau, dan taman bundar yang mengelilingi SLG ditutup total. Petugas siap menghalau jika ada orang mendekat.

“Kebijakan menutup sementara SLG sudah betul, supaya tidak berisiko pada penularan virus corona,” kata Deby, warga Dadapan. Meskipun setuju penutupan, namun berimbas pada penghasilannya sebagai pedagang angkringan yang tutup total. Namun, saat ini ia rela menutup sementara usahanya demi melakukan physical distancing, agar penyebaran virus covid-19 tidak semakin meluas. 

Deby berharap, warga Kediri tetap waspada dan menjauhi kerumunan agar penularan corona dapat dihentikan. Dengan begitu, aktivitas masyarakat segera pulih dan titik-titik keramaian seperti di Simpang Lima Gumul kembali menjadi destinasi wisata yang ramai dikunjungi warga, Amin. (ben)

Tinggalkan Balasan