Sejarah Kediri Command Center dari era 80-an hingga sekarang (Bagian 1)

Hariyanto, staf Seksi Sandi dan Keamanan Informasi Dinas Kominfo Kota Kediri

Kediri – Era tahun 1980-an, mengirim informasi tak sesederhana saat ini. Mesin-mesin pengirim pesan di ruang Seksi Sandi dan Keamanan Informasi, Dinas Kominfo Kota Kediri menjadi saksi, bagaimana kemajuan teknologi informasi telah melipat jarak dan waktu. Ini perkembangan teknologi informasi di lingkungan pemerintah dari dekade ke dekade.

Hariyanto (55 tahun), adalah salah satu pelaku sejarah, saat ini ia adalah staf Seksi Sandi dan Keamanan Informasi, yang mengoperasikan SSB dan telegram hingga saat ini menggunakan sistem digital. Hariyanto berpengalaman mengoperasikan mesin-mesin pengirim pesan sistem analog. Mesin-mesin itu kini masih berfungsi meski tak difungsikan lagi dan tersimpan di gudang Kominfo.

Mesin pertama yaitu mesin telegram yang masih ada pita kertasnya. Jadi prinsip kerjanya, jika ingin mengirimkan undangan/surat resmi, maka pengirim mengetik di mesin sebagaimana mengetik di mesin ketik manual.

Oleh mesin, ketikan tersebut diubah menjadi sandi titik yang terketik di pita kertas. Pesan titik inilah yang akan dikirim ke alamat penerima. Di alamat penerima ada mesin yang sama yang akan mengetik sendiri pesan yang dikirim sehingga hasil akhirnya berupa pesan yang terketik di lembaran kertas, bukan kode lagi. Pada saat Pemilu, mesin ini bekerja keras sebab arus informasi khususnya tentang perolehan suara terus diperbarui setiap saat.

Hariyanto mengenang, pada masa pemilu tahun 1989, ia terus duduk di samping Wali Kota Drs. Wiyoto (1989-1999) untuk menulis dan mengirimkan pesan hasil Pemilu ke Provinsi. Seiring dengan telegram, ada SSB (Single Side Band).

“Dulu ada “jam sket” yang harus stand by,” kata Hariyanto sambil menunjukkan mesin SSB lengkap dengan mic-nya. Prinsip kerja alat ini seperti HT (handy talky) hanya jangkauannya nasional. Bila ada undangan/perintah dari Provinsi Jawa Timur, maka petugas sket di Pemkab/Pemkot seluruh Jatim stand by untuk mendengarkan pesan berupa suara dari Surabaya. Kemudian, petugas yang bertugas akan menulis cepat, bisa dengan tangan atau langsung dengan mesin ketik. Hasilnya berupa surat undangan/informasi yang akan diserahkan ke Wali Kota.

Masing-masing Pemkot/Pemkab punya “nama udara”. Untuk Pemkot Kediri namanya Kana ketika nama udara berupa bunga dan buah. Kemudian ketika nama udara burung dan satwa, Kota Kediri punya nama Gelatik.

“Petugas sket ini diistimewakan. Sebab kalau lagi bertugas tidak boleh diganggu. Apel pun bisa ditinggalkan sebab kalau salah dengar bisa kacau,” kenang Hariyanto. Pernah ada kisah, petugas sket salah ketik. Jadi harusnya undangan rapat Wali Kota pukul 09.00 WIB, salah ketik jadi 19.00 WIB. Akhirnya Wali Kota Kediri sampai Surabaya, rapatnya sudah selesai.

Hariyanto mengenang, ia pernah ikut membantu, meski tak langsung, menyelamatkan kapal yang nyaris tenggelam di NTB gara-gara ia menangkap kode morse tanda bahaya.

“Kalau lagi tidak jam sket, saya kan bisa ubah frekuensi untuk “mojok” dengan teman-teman lain sesama operator. Nah, pas itu saya menangkap kode morse SOS dari kapal itu,” ungkap Hariyanto. Pesan yang tak sengaja ia dengar itu ia teruskan ke Koarmatim (Komanda Armada Timur) TNI AL Surabaya yang langsung ditindaklanjuti. Akhirnya kapal itu bisa diselamatkan. (bersambung)

Tinggalkan Balasan