Miftah, Ubah Bulu Ayam Dan Burung Jadi Kerajinan Tembus Manca Negara

Blitar – Berkarya dengan hati akan selalu menghasilkan sebuah maha karya yang luar biasa. Melalui tangan seorang pria paruh baya, Miftakhul Rohman asal RT 01 RW 11 dusun Bendil desa Jiwut kecamatan Nglegok kabupaten Blitar menciptakan karya yang dihargai tidak hanya nasional akan tetapi sampai internasional. Kerajinan ini yakni kreasi bulu ala Indian yang di garapnya dengan telaten sejak tahun 1999.

Kreasi ini berawal dari inisiatifnya sendiri dan imajinasi kecilnya dalam memanfaatkan waktu yang kosong saat bekerja di Bali, setelah menjadi karya tanpa ia ketahui sendiri nama karyanya. Miftah menyebutnya gantungan, karya tersebut di lirik oleh seorang dari kebangsaan Perancis dan mencoba membelinya dan keesokan harinya kembali menemui Miftah untuk memesan.

Dari situlah ia mulai berfikir etnik apa yang memanfaatkan bulu lebih banyak dan ternyata Indian.
Usahanya mulai berkembang namun, di tahun 2003 ia pulang ke kampung halaman yakni kabupaten Blitar untuk melanjutkan usaha kreasinya, alasan ini karena bahan baku seperti bulu ayam, itik, burung, mutiara dan kayu cukup mudah di dapatkan. Usahanya berkembang hingga saat ini dan bahkan terkenal hingga Internasional.

Miftah mengungkapkan bahwa kreasinya ini sudah terkenal hingga ke luar negeri bahkan pernah mendapatkan undangan saat piala dunia FIFA di Afrika tahun 2010 dan menerima pesanan sebanyak 13 ribu dari negara Prancis. Selain itu, pemasaran atau pemesanan paling banyak berasal dari negara Australia, Inggris, Turki dan Norwegia.

“Bisnis market paling banyak Australia, Inggris, Turki, Norwegia. Kalau ritel seluruh dunia dan penikmat seni ini tingkat nasional yakni dari Jawa Timur. Mereka kebanyakan memesan saat ada karnaval.” Katanya, Senin (22/10/2018).

Hingga saat ini Kreasi seni indian buatanya telah berkembang tidak hanya assesoris melainkan ada topeng indian, pakaian Indian, topi jenis warbonnet ala indian. Miftah menegaskan jika karyanya bukan 100% indian karena 100% indian itu ada ritual dan persayaratan lainnya.

Usaha rumahan miliknya kini sudah memiliki sedikitnya 50 pegawai yang berasal dari warga sekitar lingkungannya sendiri dan pengerjaannya bisa di selesaikan di rumah masing-masing. Setidaknya ini sudah mengangkat taraf hidup masyarakat sekitar. Karyanya di hargai di luar negeri 35 dolar sampai 125 dolar, tergantung kurs negara masing-masing dan di dalam negeri 5 ribu hingga yang paling mahal 16 juta.

Miftah berharap usahanya terus berkembang. “Jangan patah semangat, terus berusaha, ini lo bahan tidak laku sudah terbuang ibarat limbah orang bingung memanfaatkan, nyatanya sekarang saya bisa menjadikan kerjinan bernilai ekonomis mendatangkan uang sangat lumanyan.” Tuturnya.(Ervin)

Tinggalkan Balasan