Lestarikan Budaya warga Bendosari Blitar Gelar Pawai Budaya Bersih Desa

Blitar – Warga desa Bendosari Kecamatan Kademangn Kabupaten Blitar menggelar Bersih Desa. Kegiatan turun temurun sejak nenek moyang ini masih berlangsung hingga sekarang dengan berbagai rangkaian kegiatan. Seperti kemarin siang, kamis (4/10/2018) desa Bendosari menggelar kirab budaya dengan ciri khas adat Jawa.

Kirab budaya diawali dengan berdo’a bersama di Punden Kahuripan, yang dipimpin oleh sesepuh desa setempat. Do’a berlangsung dengan khitmat meminta kepada Tuhan agar masyarakat Bendosari senantiasa diberi kesejahteraan hidup.

Seluruh warga Bendosari merasakan kegiatan tersebut penuh dengan berkah, menyatukan warga dan mengingat Tuhan serta melestarikan budaya yang telah berabad-abad lamanya.Peserta kirab budaya di berangkatkan dari Punden Kahuripan berupa sumber, konon dulunya merupakan sumber kehidupan masyarakat desa Bendosari.

Menariknya dalam kirab tersebut adalah adanya gunungan hasil bumi, seperti sayu-sayuran hijau, wortel, terong, tomat, cabai, jagung, ketela dan lain sebagianya. Gunungan hasil bumi tersebut merupakan bentuk syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang melimpah, tidak hanya gunungan bumi peserta kirab juga membawa bendera merah putih yang dibentangkan sepanjang 200 meter sebagai bentuk kecintaan warga Bendosari terhadap tanah air Indonesia.

Warto sekretaris desa Bendosari mengatakan bahwa kegiatan bersih desa digelar bersamaan dengan memperingati tahun baru 1440 hijriyah dengan diawali dengan malam tirakatan dilanjutkan pengajian dan kirab budayaan, puncaknya pagelaran wayang kulit semalam suntuk dengan lakon wahyu katentreman dalang Ki sujianto Aji Suryandaru dengan bintang tamu Lusi Brahman dan Gareng Solotiga.

“Acara Bersih Desa ini dilakukan sudah turun temurun sejak nenek moyang dan berharap masyarakat desa dijauhkan dari berbagai balak serta di berikan ketentraman dan sejahtera dengan hasil bumi melimpah.” Katanya.
Tokoh masyarakat desa setempat Paduko mengaku senang dengan kekompakan masyarakat ikut partisipasi (nyengkuyung) kegiatan bersih desa dan berharap kebersamaan seperti ini harus tetap dipertahankan.” Tuturnya. (Ervin)

Tinggalkan Balasan