Komunitas Tingwe Blitar Serbu Kedai Tingwe Boro


Blitar -JTV Mataraman.com: Komunitas Tingwe Blitar memadati Kedai Tingwe ( Nglinting Dewe) Tembakau di Kedai Tingwe Jalan Raya Blitar – Tulungagung Ruko Boro ,Tuliskriyo Kabupaten Blitar, Selasa(1/09/2020),malam.
Para pemuda penyuka Rokok berganti Rokok Tingwe ini belasan karena harga rokok mahal akibat kebijakan pemerintah tentang cukai rokok.

“Saya penikmat Rokok, sejak enam bulan lalu pindah rokok Tingwe ( nglinting tembakau Dewe),karena lebih murah dan hemat dan rasanya banyak pilihan tembakau Nusantara.”Kata Gendon yang berprofesi bengkel sepeda motor.

Tingwe (ngliting dewe) dalam Bahasa Jawa diartikan membuat rokok dengan cara meracik sendiri yang terdiri dari tembakau dan cengkeh, lalu kemudian dengan menggunakan alat manual untuk melintingnya,yang hanya terbuat dari kayu dan plastik mika tipis bahkan hanya dengan menggulung dengan kertas rokok tingwe bisa dinikmati.

Dengan tingwe biaya lebih murah tidak perlu merogoh uang kocek banyak. Fenomena Tingwe sebelumnya pernah muncul era 70an dan kini membudaya lagi. Melinting rokok sendiri sudah bukan lagi hal tabu, karena di kalangan pemuda sekarang banyak yang ikut maramaikan tingwe di jagad maya, karena menurut mereka melambungnya harga rokok akibat kebijakan cukai sehingga banyak yang beralih ke tingwe.

Di Kabupaten Blitar, tingwe sudah menjadi trend kalangan masyarakat usia muda hingga dewasa . Seperti di Kedai tingwe milik Sundawa ,Ruko Boro Jalan Raya Tuliskriyo Sanan Kulon Kabupaten Blitar hampir setiap hari tidak ada sepinya penikmat Tingwe.

Sementara Sundawa pemilik salah satu kedai tingwe mengatakan bahwa saat ini harga rokok yang semakin mahal membuat warga mulai beralih ke tembakau saja, selain harga yang murah dapat juga di sesuaikan varian rasanya yang tidak kalah dengan rokok bermerek. ” Umumnya para pecinta tingwe adalah para perokok berat, dengan harga rokok per bungkus yang semakin mahal, membuat mereka beralih kepada tembakau,” ujarnya.

Hadirnya tingwe di era modern seperti sekarang ini, jika di lihat melalui sudut pandang ekonomi tentu sangat positif,karena membuka peluang usaha baru, yang biasanya pada mencari rokok yang sudah jadi ,kini para penjual tembakau dan cengkeh eceran tentu di buru pecinta tingwe. Apalagi Warung atau Kedai Tingwe banyak menawarkan berbagai tembakau dari banyak daerah dengan berbagai rasa. Tak heran kedai Tingwe selalu ramai bhayangkan kalau biasanya kita membeli rokok sebungkus, katakanlah Rp 20.000 dimana per bungkusnya berisi 12 batang.

Jika dibandingkan dengan membeli tembakau yang harga per ons-nya tidak lebih dari Rp 17.000, sudah bisa membuat lebih dari 80 lintingan rokok. Tidak hanya tembakau saja yang diburu,seperti cengkeh sebagai bahan campuran,gabus,sigaret dan alat pelindungnya pun sekarang mulai dicari para pecinta tingwe. (Asf)

Tinggalkan Balasan