Kediri Butuh Pemimpin Yang Mampu Mewujudkan Pembangunan Stadion Bertaraf Nasional Dengan Segala Fasilitas Penunjang

Catatan Sepakbola.

Oleh : Beny Kurniawan / Jurnalis Olahraga / Mantan Manajer Persik Kediri

Foto2 Istimewa

Jtvmataraman.com Mencari 11 orang yang piawai dalam menggocek bola dari 267 juta penghuni negara Indonesia, susahnya minta ampun. Prestasi Timnas kita paling mentok hingga level Asia Tenggara, itupun hanya bisa juara dilevel junior U16, U19 dan U22. Jangan mimpi di level senior kita berprestasi ditingkat Asia atau dunia, kejahuan. Karena dilevel Asia Tenggara atau Piala AFF, Timnas Indonesia hanya bisa 5 kali Runner Up dan belum pernah mengangkat thropy tersebut.

Indonesia selalu dihantui oleh bayang bayang Thailand dan Malaysia, bahkan akhir-akhir ini juga mulai disalip Timnas Vietnam. Ini sangat menyedihkan untuk negara yang kegilaan rakyatnya pada urusan sepakbola tidak kalah daripada Brazil atau Jerman tersebut.

Sebenarnya berbagai cara telah dilakukan oleh pemangku kebijakan sepakbola tanah air. Seperti proyek pengiriman bakat pesepakbola muda Indonesia keluar negeri sebenarnya sudah dirintis sejak lama. Mulai dari PSSI Primavera, PSSI Baretti ke Italia, SAD ke Uruguay hingga sekarang Garuda Select I dan II ke Inggris dan Italy.

Dari proyek ini memunculkan bintang-bintang sepakbola asal Indonesia, seperti Kurniawan Dwi Yulianto, Yeyen Tumena, Bima Sakti (Primavera), Uston Nawawi, Charis Yulianto, Nova Arianto (Baretti). Sedangkan lulusan SAD Uruguay muncul nama nama seperti Teja Paku Alam, Hansamu Yama, Vava Mario Yagalo, Ryuji Utomo, Yanto Basna serta sejumlah nama lainnya yang hingga saat ini masih aktif merumput. Sedangkan proyek Garuda Select I dan II saat ini sedang berjalan.

Hasil ini sebenarnya menunjukkan jika bakat-bakat muda Indonesia kualitasnya tak kalah dengan Eropa atau Amerika Latin. Secara SDM (Sumber Daya Manusia) Indonesia tak kalah, tapi ketinggalan di sistem dan infrastruktur yang menjadi pendukung pengembangan SDM yang di miliki. Di negara seperti Inggris dan Italia, mereka punya metodologi latihan yang baik. Setiap pemain dibiarkan berkembang sesuai dengan kemampuan dan usianya. Mereka Di tempa dalam sebuah kompetisi di setiap pekannya. Pemain-pemain muda termonitor dan terkontrol dengan sangat baik, ditopang gizi dan sport science.

Ini menjadi tugas berat Federasi juga pemerintah. PSSI harus bisa memecahkan persoalan yang sudah lama menjadi problem kita. Kenapa para pemain Indonesia bisa meraih prestasi di level junior tapi melempem ketika menapaki senior. Pasti ada yang salah di sistem pembinaan dan kompetisi di Indonesia. Harus dibenahi agar talenta-talenta hebat yang banyak terlahir di negeri ini bisa berkembang secara optimal, tak layu sebelum berkembang. 

Pemerintah dalam hal ini perannya begitu dibutuhkan terkait penyediaan infrastruktur dan supporting lainnya. Indonesia saat ini masih sangat kekurangan lapangan sepak bola yang memenuhi standar. Sementara bakat-bakat hebat pemain sepak bola begitu melimpah, lahir dimana-mana. Mau dibantah atau tidak, pemerintah juga sering menuntut sepak bola Indonesia berprestasi, namun hasilnya juga gak kunjung jelas. Presiden Jokowi juga sudah bikin Inpres Percepatan Sepak Bola Nasional No 3 tahun 2019, tetapi tidak dilaksanakan oleh jajaran Gubernur, Walikota atau Bupati. Mangkrak. Padahal sudah selevel Presiden lo yang bikin instruksi. Mau instruksi yang lebih tinggi dari siapa lagi?

Pernah juga Kemenpora bikin program yang (seolah2) gagah. Yaitu “Satu Desa Satu Lapangan Sepakbola” untuk mendukung pengembangan bakat pesepakbola tanah air. Faktanya Cuma selesai di ceremoy peluncuran dan program tersebut tidak ada kejelasannya hingga saat ini.

Sebagai catatan tambahan, di Indonesia hanya “almarhum” Pelita Jaya yang punya Training Camp bertaraf Internasional di Sawangan Depok. Training Camp ini sudah dilengkapi oleh beberapa lapangan latihan, asrama, kolam renang, gym dan ruang medis. Sayangnya klub ini dijual dan berganti nama menjadi Madura United.

Sementara di Kediri tempat saya berkarya dan meniti karier, boro-boro memikirkan Training Camp, Stadion Brawijaya saja mulai berdiri hingga saat ini tidak pernah mengalami renovasi. Pembenahan hanya kecil-kecil biar syarat menggelar Kompetisi dan bermain di Stadion Brawijaya bisa diizinkan oleh operator liga.

Kasus timnas dan Kediri sebenarnya tidak berbeda jauh dari sisi fasilitas dan Insfrastruktur, bakat bakat pemain asli Kediri melimpah dan saat ini banyak pemain yang menghuni di sejumlah klub tanah air. Bahkan generasi emas saat ini, seperti Septian Satria Bagaskara, Risna Prahala Benta, Adi Eko Jayanto, Eka Sama Adi Prasetyo, Galih Akbar dan lainnya mampu membawa Persik back to back juara Liga 3 dan Liga 2 hingga promosi ke Liga 1 tahun 2020.

Diawal tahun 2018, Saat Persik berada di kasta Liga 3, banyak yang mencibir dengan penunjukan saya sebagai Manajer, bahkan sempat diboikot oleh suporter selama hampir setengah musim kompetisi. Namun berkat kepercayaan saya kepada pemain muda muda asli Kediri akhirnya bisa membuktikan menjadi Juara Liga 3, dan suporter kembali memadati stadion.

Diliga 2 Tahun 2019, saya tidak banyak merubah komposisi pemain. Pemain asli Kediri saya pertahankan ditambah pemain muda dari sejumlah daerah saya datangkan. Selain mempunyai semangat tinggi karena masih muda, menurut filosofi saya kontrak atau gaji mereka juga “muda”. Namun ketika mereka saya rekrut, mereka juga harus menandatangani pakta integritas, yaitu bermain dengan hati dan tidak bisa “dibeli” oleh mafia bola atau bandar judi. Sejak awal memang tidak ada target tim ini untuk lolos ke Liga 1 atau bahkan juara Liga 2 tidak ada dibenak kami.

Karena saya sadar, Persik Kediri klub legenda di Indonesia yang pernah 2 kali Juara Liga tahun 2003 dan 2006, hingga saat ini tidak memiliki aset apapun. Jangankan punya lapangan latihan, Mess pemain, Kantor dan Bus tim masih ngikut alias minjam ke Pemkot Kediri, stadionpun juga masih jadul tanpa ada pembenahan sama sekali meskipun sudah beberapa kali pergantian Kepala Daerah.

Namun berkat daya juang, kekompakan dan semangat pantang menyerah yang ditunjukkan tim Persik ditahun 2019 akhirnya bisa merengkuh Juara Liga 2. Perjalanan tim Persik untuk merengkuh juara, juga tak mulus mulus banget, banyak hadangan seperti dikerjai perangkat pertandingan hingga godaan klub-klub lain yang ingin naik kasta. Namun tim ini, tidak ada kamus cara mengalah, jadi terus mengalir hingga menjadi kampiun. 

Dari tulisan diatas, kasus Timnas dan Tim asal Kediri ini hampir mirip dari sisi fasilitas dan insfrastruktur, hanya skalanya yang lebih kecil. Kalau Timnas hanya perlu orang Federasi yang bisa berlari mengejar ketertinggalan dari negara Asia Tenggara, seperti mewajibkan Tim Liga 1 punya Stadion Standar Nasional, harus punya lapangan latihan sendiri (Training Camp) serta memaksimalkan kompetisi usia muda yang saat ini sudah berjalan.

Sedangkan di Kediri, ada 2 tim hebat Persik dan Persedikab yang butuh sosok petinggi daerah yang tidak hanya peduli dengan persepakbolaan Kediri, tapi mau dan mampu mewujudkan pembangunan insfrastruktur yang paling tidak standar nasional. Seperti training camp, mess dan Stadion baru yang keliatannya hanya bisa dilakukan di Kabupaten Kediri, karena lahannya masih luas dibanding Kota Kediri.

Menurut saya tokoh tersebut selain masih muda dan “gendeng bal”, juga punya akses ke pemerintah pusat untuk mewujudkan Inpres Percepatan Sepak Bola Nasional No 3 tahun 2019, dengan menghadirkan Stadion Kebanggaan masyarakat Kediri dengan segala fasilitas penunjang lainnya. Kalau cita-cita punya pemimpin gila bola di Kediri tidak terwujud dalam waktu dekat, jangan harap Sepakbola Kediri akan bisa berkembang. Sampai kapan Kediri punya Stadion dan insfrastruktur penunjang, bisa jadi jawaban kolega saya yang sudah kehilangan rasa, benar adanya. “Sampai Lebaran Monyet!!!”. (ben)

Tinggalkan Balasan