Kasus Kekerasan Anak di Kabupaten Blitar Masih Tinggi, PPA Kerja Ekstra

Blitar – Kekerasan bisa terjadi terhadap siapa saja, menyangkut hal ini beberapa kasus terjadi pada anak dan perempuan. Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan  Anak

(PPKBP3A) Kabupaten Blitar tidak henti-hentinya memberikan tindakan sosialiasi terhadap masyarakat, khususnya anak-anak. Namun, rupanya tindak kekerasan semakin meningkat.

Berdasarkan data Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuqn dan Anak  (P2TP2A) Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Peelindungan  Anak ( PPKBP3A) Kabupaten Blitar, sejak Januari hingga Juli 2018

Terdapat 32 kasus kekerasan. Yakni kekerasan kepada anak mencapai 18 kasus , pelecehan seksual 11 kasus dan pencabulan 3 kasus. Sedangkan kekerasan terhadap perempuan  sebanyak  19 kasus tersiri pelecehan seksual 2 kasus dan KDRT 17 kasus.

Menurut Sri Suharti ,Kabid Perlinduangan Perempuan dan Anak ( PPA) Dinas PPKB P3A kabupaten Blitar, banyak faktor penyebab terjadinya kasus diatas

Diantaranya karena rendahnya sosial ekonomi,pendidikan ,kurang waktu orang tua dengan anak, kesibukan orang tua  dan sebagian besar kasus kekerasan terhadap anak disebabkan oleh penggunaan gadget, media sosial seperti Facebook. Terungkapnya kasus kekerasan pada anak dan KDRT juga karena gencarnya  sosialisasi UU perlindungan Perempuan dan Anak melalui berbagai media, sehingga para korban berani melapor.’ Kami akan terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat  agar berbagai kasus bisa tekan dengan merangkul berbagai pihak seperti instansi terkait serta lembaga keagamaan”,Tuturnya

Lanjut Sri Suhartini  semua usaha telah dikerahkan oleh pihak PPKBP3A termasuk memberikan pelayanan ekstra yakni pendampingan hukum apabila proses kekerasan harus diproses hukum bagi korban yang menghendaki proses hukum, selain itu ada pelayanan psikolog bagi korban. Tujuan jadwal psikolog ini agar jiwa anak dan perempuan lebih stabil.

Tidak hanya psikolog, namun juga tokoh agama jika ditimbulkan dari dasar agama, selain itu ada rumah aman apabila korban saat kasus ada ancaman dari pelaku, kurang nyaman atau tidak diterima oleh masyarakat karena kejadian pelecehan seksual yang diterima. Untuk para korban pelayanan dari PPKBP3A lewat P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak) ,sedangkan bagi pelaku pelayanan dilakukan oleh PPA polres dengan nama Unit PPA polres. Dengan adanya pelayanan ekstra tersebut, tindakan kekerasan agar tidak semakin melonjak. ( Ervin)

Tinggalkan Balasan