Hadapi Perubahan Iklim, PATTIRO Dorong Kabupaten Blitar Terapkan Pembangunan Berwawasan API PRB

Bltar – Menghadapi perubahan iklim, Pusat Telaah dan Informasi Regional (PATTIRO) mendorong pembangunan berwawasan adaptasi perubahan iklim (API) dan pengurangan resiko bencana (PRB)di Kabupaten Blitar. Salah satu gerakan yang telah dilakukan PATTIRO denganmemberikan pendampingan kepada masyarakat di wilayah rawan bencana. Sebagaimana diketahui, Kabupaten Blitar termasuk wilayah kategori bencana sangat tinggi. Selain itu, di wilayah ini terdapat 6.364 hektar lahan kritis yang mengalami banjir.

Fasilitator PATTIRO, Bening Trisma, mengatakan sejauh ini pihaknya memberikan pendampingan di dua wilayah kategori rawan bencana. Masing-masing di Desa Semen, Kecamatan Gandusari, yang masuk wilayah rawan longsor. Dan Kecamatan Sutojayan yang rawan bencana banjir.

Untuk kedua wilayah itu, sebagai antisipasi perubahan iklim dan antisisipasi resiko bencana pihaknya membekali masyarakat dengan pelatihan melibatkan dinas terkait. Serta menggelar kajian resiko bencana dengan melibatkan forum masyarakat setempat.

“Dua wilayah ini beda karakter, Semen berada di dataran tinggi. Dan Sutojayan berada di cekungan. Lewatb kegiatan pelatihan dan kajian ini kami mendorong pemerintah desa membuat pelatihan kegiatan pengurangan resiko bencana,” ucapnya kepada wartawan di Blitar, Kamis.

Menurut dia, sebelum ada gerakan ini pemahaman masyarakat tentang adaptasi perubahan ikim sangat minim. Bahkan mereka tidak tahu adanya banjir, tanah, longsor disebabkan oleh perubahan iklim.
Selain itu sambung dia, perubahan iklim membawa dampak signifikan terhadap kehidupan masyarakat, khsusunya kelompok petani dan nelayan.

Perubahan iklim menyebabkan hasil panen mereka berkurang dan berpengaruh signifikan terhadap pendapatan perekonomian. Oleh sebab itu, perlu dilakukan penguatan kapasitas masyarakat terhadap adaptasi perubahan iklim yang terjadi saat ini. “Petani dan nelayan adalah kelompok utama yang terkena dampak dari perubahan iklim. Upaya adaptasi menjadi pilihan yang penting untuk dilakukan agar dapat mengurangi dampak yang diakibatkan oleh perubahan iklim. Semisal, saat ini petani di Desa Semen sudah cerdas membaca kondisi alam. Kalau dulu mereka menanam tanaman kopi, kini mereka menanam buah nanas yang tahan terhadap segala cuaca,” jelasnya.

Lebih lanjut dalam menghadapi perubahan iklim, pihaknya mendorong kepada Pemerintah Desa untuk memanfaatkan Dana Desa (DD) untuk pembangunan yang mengarah terhadap API PRB. Selain itu, PATTIRO juga mendorong Pemerintah Daerah untuk secepatnya menetapkan Raperda Penanggulangan Bencana dan menyusun Rencana Aksi Daerah Adaptasi Perubahan Iklim.
“Dana desa itu sangat besar, akan sangat baik bila dimanfaatkan untuk kegiatan yang mengarah terhadap adaptasiperubahan iklim (API) dan pengurangan resiko bencana (PRB), karena ini sudah menjadi kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Menurut Bening, dalam mengatasi perubahan iklim ada lima sector yang harus dibangun. Masing-masing bidang ekonomi,kehidupan,ekosistem, kawasan khusus,dan bidang pendukung. Kedepan pihaknya berharap aka nada pengembangan dan penguatan forum AP dan PRB di Desa dan Kelurahan agar dapat berperan optimal sebagai sarana informasi warga dan pihak lain dalam menghadapi adaptasi perubahan iklim.

“Bila forum tersebut terbentuk kami yakin akan sangat bermanfaat. Semisal Perhutani dalam rangka menjaga lingkungan desa yang terhadap API PRB,” pungkasnya ( Gilang/M.Asrofi)

Tinggalkan Balasan