Berdiri Sejak Jaman Belanda, Pabrik Arak Jowo Akhirnya Ditutup Polisi

Ngawi – Jajaran kepolisian Polres Ngawi akhirnya menutup sentra produksi minuman keras yang beroperasi sejak zaman Belanda, di Dusun Poncol Desa Kerek Kecamatan Ngawi Kabupaten Ngawi. Dari sebanyak 145 keluarga, 76 keluarga memproduksi arak jowo, untuk berpengsailan hidup.

Salah satunya adalah keluarga Marlan, yang telah turun temurun menggantungakan hidup dari memproduksi arak jowo. Warung untuk jualan arak jowo, juga ikut tutup setelah petugas menyita alat produksinya.

“Pembuatan minuman beralkohol masih bersifat tradisional, bahan bakunya terbuat dari tetes limbah pabrik gula.” Jelas Marlan pembuat arak jowo.

Sementara untuk memproses fermentasi tetes menjadi arak jowo warga setempat membuat dapur dibelakang rumah.

Kapasitas produksinya, antara 20 liter hingga 25 liter, penjualan arak jowo, umumnya dengan menggunakan kemasan botol air mineral. Untuk botol berisi 1.500 mili liter dijual seharga Rp 30 ribu, sedangkan untuk botol 750 mili liter, dijual Rp 15 ribu produksi arak jowo juga bergantung pesanan.

Penutupan usaha ilegalnya, membuat Marlan sekeluarga merana. “Usaha arak jowo ini, menjadi pencaharian utama kami yang terdiri dari 5 orang, kita saat ini bingung karena tidak mendapatkan kompensasi,” tambah Marlan.

Tindakan Polres Ngawi menutup sentra produksi arak, tidak lepas dari maraknya miras oplosan yang berujung maut. Dari kaca mata hukum tindakan Polres Ngawi, sudah tepat.

Tetapi dari kaca mata sosial, pendekatannya seharusnya seperti penutupan lokalisasi pekerja seks komersial oleh Pemprov Jawa Timur, sehingga bisa mengurangi gejolak sosial. (Herpin)

Tinggalkan Balasan