Bajak Sawah Gunakan Sapi Yang Mulai Terlupakan

Petani di sebuah desa di Jombang masih melestarikan alat bajak menggunakan sapi

Jombang – Memasuki musim tanam padi petani Desa Ngampungan Kecamatan Bareng Jombang, mengolah sawah masih menggunkan bajak tradisional yaitu dengan tenaga sapi.

Petani mengolah tanah dengan tenaga dua ekor sapi, kedua sapi menarik alat bajak yang terbuat dari kayu dan besi baja pada ujungnya.

“Dengan alat bajak tradisional tersebut, tanah terkelupas dan terolah pada saat bajak ditarik sapi” jelas Suparno petani.

Dengan bajak sapi ini  pengolahan tanah hingga beberapa kali, sehingga  tanah menjadi lembut untuk mempermudah akar tanaman berkembang. Selain diolah dengan bajak, tanah juga diinjak-injak sapi. Pengolahan seperti ini dianggap lebih bagus dibanding menggunakan bajak mesin.

Namun suparno bukanlah pemilik lahan, melainkan buruh untuk mendapat upah dari pemilik lahan. Upah perhari berkisar 90 hingga 100 ribu rupiah. “Untuk pakan sapi hanya dengan rumput, pembajak masih mendapat keuntungan cukup” tambahnya.

Pembajak menggunakan sapi, lebih murah sekitar 350 ribu setiap hektarnya dibanding alat bajak menggunakan mesin atau traktor. (Saiful)

Tinggalkan Balasan