Alsintan Bantuan Pemerintah, Belum Maksimal Biberdayakan Petani

Tulungagung – Bantuan Alsintan (Alat Mesin Pertanian) yang di berikan pemerintah kepada kelompok tani, di seluruh wilayah Kabupaten Tulungagung, saat ini ternyata belum maksimal di berdayakan. Terbukti setelah di gunakan pada musim tanam, banyak alsintan yang kemudian di simpan dan tidak di operasikan lagi, padahal seharusnya alsintan ini bisa di optimalkan dengan cara di gunakan di lain daerah, dengan cara di sewakan.

Pemerintah sendiri pada tahun 2017 lalu telah memberikan bantuan Alsintan kepada petani di kabupaten Tulungagung berupa, traktor roda 2 : 56 unit, traktor roda 4 : 21 unit, pompa air : 58 unit, rice transplanter : 18 unit, cultivator : 27 unit, hand sprayer : 500 unit, cront planter : 7 unit, alat ini tersebar di kelompok-kelompok tani yang ada di Tulungagung.

Kondisi ini menjadikan perhatian dinas pertanian kabupaten Tulungagung, pihakny berupaya memberikan pengarahan kepada para penerima bantuan ini, agar bantuan alsintan yang telah di berikan kepada petani tersebut, untuk di gunakan lebih optimal lagi, di antaranya dengan cara di bawa ke luar daerah lain untuk di sewakan, karena tidak ada aturan alsintan ini hanya bisa beroperasi di daerah tempat alsintan ini di berikan, apalagi peluang masih cukup menjanjikan , karena menyewa alsintan bantuan pemerintah ini lebih murah dari alsintan milik swasta.

Kepala dinas pertanian melalui kasi pupuk pestisida dan alsintan Triwidiono Agus Basuki mengatakan, pihak dinas pertanian Tulungagung juga tidak menampik adanya kendala dalam pelaksanaan pengoptimalan alsintan bantuan pemerintah ini. Karena para operator akan berhadapan dengan pemilik alsintan swasta yang lebih dulu telah menguasai persewaan Alisintan ini kepada petani untuk proses pengerjaan sawahnya .

Di kawatirkan kalau memaksa menyewakan di lokasi yang telah di kerjakan oleh pemilik atau operator alsintan swasta, justru akan timbul perselisihan. Maka dari itu, di butuhkan kreatifitas para kelompok tani yang mendapat bantuan alsintan ini memiliki gagasan kreatif dalam mengoptimalkan alsintan ini, agar alsintan ini tidak menganggur, setelah usai di gunakan saat musim tanam.

” Ya kadang memang terkendala dengan keberadaan alsintan swasta yang lebih dulu beroperasi di sejumlah lahan persawahan warga ” terang Triwidiono Agus basuki.

Kementerian Pertanian telah memiliki standar target pengoptimalan alsintan ini, 1 hand traktor itu di targetkan bisa mengkafer 0,3 hektar tanah bajakan per harinya, namun kenyataannya target itu belum bisa terpenuhi, sampai akhir bulan Maret 2018 ini, laporan yang di d terima dinas pertanian, dengan jumlah 539 hand traktor yang ada di seluruh wilayah Tulungagung, baru bisa mengkafer 180 hektar tanah bajakan saja, dalam satu musim tanam.

Harapannya penggunaan alat ini, tidak hanya saat musim tanam, tetapi juga bisa di gunakan, saat musim panen misalkan untuk alat angkut, jadi petani harus berani memodifikasi mesin dalam kondisi tertentu. (Bondan)

Tinggalkan Balasan