3 Kerangka Mayat Di Tengah Sawah Sukomoro, Nganjuk Diduga Korban Pembantaian G 30 S PKI.

Nganjuk – Warga Desa Putren, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, digegerkan dengan penemuan kerangka 3 mayat di tengah sawah. Sebab, kerangka mayat berupa tulang-belulang itu tidak hanya satu atau dua, namun jumlahnya cukup banyak.

Setelah tim medis melakukan pemeriksaan di lokasi penemuan, kuat dugaan kerangka tersebut merupakan tulang manusia. Diantara tulang belulang yang ditemukan, terdapat pula kerangka tengkorak kepala.

Kini, seluruh kerangka mayat tersebut dibawa petugas ke Rumah Sakit Bhayangkara Nganjuk. Sementara polisi melakukan Pengumpulan Bahan dan Keterangan (Pulbaket), untuk pendalaman penemuan kerangka mayat tersebut.

Kerangka mayat ini pertama kali ditemukan oleh sejumlah warga yang tengah menggali lahan, untuk pembangunan perbaikan irigasi sawah. Karena tulang-belulangnya cukup banyak, warga melaporkan penemuannya ke perangkat desa yang kemudian diteruskan ke pihak kepolisian.

Tak lama kemudian, Tim Inafis Polres Nganjuk tiba di lokasi melakukan pencarian sisa-sia tulang belulang tersebut. Selain itu, tim medis dari Rumah Sakit Bhayangkara Nganjuk, juga mendatangi lokasi penemuan untuk melakukan pendalaman.

Kapolres Nganjuk, AKBP Dewa Nyoman Nanta Wiranta, yang juga mendatangi lokasi penemuan kerangka mayat langsung meminta keterangan kepada sejumlah petugas serta perangkat desa.

“Hasil sementara disimpulkan bahwa kerangka mayat tersebut lebih dari 1 orang dan diperkirakan sudah puluhan tahun terkubur. Untuk pendalaman, polisi akan meminta keterangan warga setempat serta menumpulkan data terkait,” jelas AKBP Dewa Nyoman Nanta Wiranta.

Sementara menurut Nidi Basuki, Kepala Desa Putren, bahwa di lokasi penemuan kerangka mayat pernah dikabarkan sebagai tempat pembantaian zaman G 30 S PKI.

“Sebagian warga masih meyakini cerita dari sesepuhnya, memang benar bahwa lokasi tersebut tempat pembantaian,” jelas Nidi Basuki

Bahkan ada sekitar 9 orang, yang dibantai oleh PKI dan di buang di area tersebut. Pihak desa bersama aparat, berencana akan melakukan penggalian kembali di sekitar lokasi, guna menemukan tulang belulang yang belum ditemukan. (Sarwani)

 

Tinggalkan Balasan